*di tengah kesibukan mata guna kepentingan audit*
Jalan2 di area Friendster, mampir di blog-nya Pak Wisnu, baca posting-nya “Belajar dari Diagram Konteks”
*Bapak yang satu ini.. dosen RPL Terapan aku dulunya, zaman S1*
Hem, jadi tergelitik menulis sedikit nih
Tentang Diagram Konteks, Ke?
*hehe bukanlah.. tapi tentang apa2 yang bisa dibilang penting ketika kita mulai bekerja dengan diagram ini..*
*hal yang paling sering diabaikan, dianggap remeh*
Diagram Konteks ini merupakan bagian dari DFD (Data Flow Diagram) *klik dan baca aja..*, suatu bentuk pemodelan yang bukan barang baru lagi deh.. di dunia Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering).
Sekali lihat.. dijamin mengundang Anda untuk berpikir..
Ah.. cuma begini doang..
Gampanglah..
Dan ketika Anda sukses berpikir seperti itu.. ya.. yah.. Selamat Datang ke dalam Labirin
Loh, kok malah selamat datang ke dalam Labirin, Ke?
Tersesat dong..???
Hem, kalo boleh jujur.. IYA..
*Ini bukan asal njeplak ngomong loh ya..*
*Tapi berdasarkan pengalaman.. baik itu sebagai yang-diajari dan yang-mengajari*
Kalimat “Don’t judge a book by its cover“ berlaku dalam pemahaman diagram ini *menurutku*. Karena dalam kesederhanaan yang dimilikinya, Diagram Konteks memiliki kerumitan tersendiri.
*untuk menghasilkan sesuatu yang tampak sederhana.. belum tentu dengan kesederhanaan berpikir juga loh..*
Dulu, aku juga ga dengan gampang menggambarkan Diagram Konteks yang masuk dalam kategori “Benar”.
*Pertama kali kenal diagram ini dari Mas Dindin Mahmudin yang ngajar di kelas RPL Dasar, zaman aku D3. Langsung diberi tugas kasus dan referensi babon-nya dari buku si Pressman untuk penggarapan dokumen SRS (Software Requirement Specification)*
Masalahnya..
Aku belum tahu kapan aku harus berpikir sederhana, dan kapan aku harus berpikir rumit ketika menghadapi Diagram Konteks dan pen-detil-an proses di diagram level2 berikutnya.
Aku belum bisa memandang suatu kasus utuh menyeluruh *karena biasanya kasus yang disampaikan itu kan.. seperti ter-pecah2.. karena masalah bisa ber-macam2 untuk satu domain saja..*itu menjebak untuk langsung berpikir detil2 gitu deh..*
Waktu itu.. untungnya ada Pak Bayu Hendradjaya yang memberi pencerahan dari sudut pandang berbeda, tapi lebih enak dipahami.
*zaman dulu sih..Bapak yang satu ini yang ngajarin aku algoritma & bahasa pemrograman Pascal, C, Assembly, Clipper*
Masalah bisa diselesaikan dengan cara:
Membaca permasalahan baik2.. *membaca cepat tidak masalah, tapi tetap harus membaca baik2..* untuk kemudian mengerti.
Menyatukan keseluruhan masalah di domain tersebut dalam satu “atap” *karena pada akhirnya akan digambarkan dalam satu kesatuan sistem*
Dan beberapa tahun kemudian.. ketika aku mulai menjadi asisten.. Pak Jimmy Tirtawangsa menambahkan satu kunci lagi..
Keep it simple!
*biasanya ini mulai digunakan kalo aku sudah mulai terjebak mendetilkan proses sebelum waktunya, ya itu.. gara2 lupa membaca baik2..*
*o iya.. Bapak yang ini.. dosen juga, tapi aku belum pernah ikut kelasnya sebagai mahasiswa, melainkan sebagai asisten-nya hehe..*
Yup, Diagram Konteks memang gampang2 susah. Kuncinya “sederhana”, Anda hanya harus tahu.. kapan menggunakan “sederhana” dan kapan menggunakan “rumit”.
Kunci pemahaman Diagram Konteks (dan DFD) ini sudah aku terapkan dan informasikan, meski bukan di kelas aku sendiri
*Jelek2 begini.. kan aku udah pernah ngerasain jadi konsultan-gratisan dan dosen pembimbing loh..*
*gratisan untuk anak2 S1, pembimbing untuk anak2 D3*
Tentunya dengan bantuan contoh kasus, karena itu akan lebih mudah. Kalo masih susah juga, ya harus kreatif menganalogikan bagaimana-cara-hingga-sampai-ke-tujuan-diagram-yang-dimaksud.
*ini ter-inspirasi dari gaya-nya Pak Bayu ngajar..*
*buatku hebat loh.. bisa menyederhanakan hal2 yang rumit tanpa mengabaikan esensi materi..*
Oahemm.. eh.. udah malam..
Pulang dulu ahh.. istirahat sebentar dan.. kerja lagi
Semangat!!!
