Catatan si Kuke



Haroun and The Sea of Stories – Salman Rushdie

*padahal pusing.. tapi pengen nulis ini*

Haroun and The Sea of Stories.. novel karya Salman Rushdie yang dikategorikan sebagai Novel Anak-anak

*ingat penulis The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) ini kan?? dulunya..*

Tapi apakah benar ini novel buat anak2??

Kesan pertama.. Oo tentu tidak.. *meski mungkin.. tergantung tipe anak2nya ya..*

Kenapa tidak?

Pertama.. packaging-nya *yang versi Bahasa..* ga akan menarik buat anak2. Tidak warna-warni, tanpa gambar.. *bandingkan dengan Pangeran Kecil..*

Kedua.. terlalu banyak kalo buat anak2 biasa.. *kecuali model anak2 yang maniak baca-buku.. ya.. ga apa2 juga..* 223 halaman, font-size sekitar 7-8.. Times New Roman..

Ketiga.. dari cover-nya juga.. anak2 mah ga akan terlalu tertarik membeli. Terlebih lagi.. ditempatkan di rak novel yang bukan untuk anak2 :)

Apa dengan begitu akan langsung cocok dikonsumsi oleh Remaja & Dewasa??

Tergantung tipe Remaja & Dewasa-nya..

Haroun and The Sea of Stories ini kental dengan nuansa dongeng, imajinatif. Ceritanya aja tentang petualangan sepasangan Ayah dan Anak.. Rasyid dan Harun.. ke Negeri-Asal-Dongeng ^_^

Mereka tinggal di sebuah kota yang sedih, paling sedih. Sampai2 kota ini lupa akan namanya sendiri.

Rasyid ini adalah seorang pendongeng.. yang ditinggalkan oleh istrinya – Soraya, yang bersuara indah- karena terlalu menikmati sebagai seorang pendongeng, hidup di dunia yang identik dengan “dunia mimpi”. Itupun akibat hasutan Khattam-Shud.. peran antagonis di novel ini yang berkata:

“Apalah gunanya cerita yang tak pernah terjadi di alam nyata?”

Ketika Harun bertanya.. kenapa sih Khattam-Shud begitu membenci cerita? Khattam-Shud menjawab:

“Dunia ini ada untuk dikendalikan. Dan di dalam setiap dongeng terhampar sebuah dunia yang tak bisa kukendalikan. Itulah alasannya.”

Hemm ada yang penasaran ya?? Huehehe .. baca deh bukunya. Gregetnya bisa semenarik Pangeran Kecil dan Madogiwa no Totto-chan..

Karena pada akhirnya.. si kota-yang-lupa-akan-namanya-karena-terlalu-sedih itu.. berbahagia dan ingat akan namanya sendiri.. Kahani *artinya..cerita..*

Penghuninya pun berbahagia, tidak semuram awalnya..

Soraya kembali kepada Rasyid dan Harun.. dan kata2nya yang menurut aku begitu menunjukkan dia seorang ibu.. *kalo ingat model ibu2 biasanya ya..* adalah:

“Ada batasnya berapa banyak curah hujan yang bisa dinikmati oleh seseorang.”

He he he.. ini kalo anaknya suka hujan2an.. biasanya begitu hu hu.. :P

*dan.. ndilalah.. hujan sudah turun di luar sana..*

P.S. :

Nama2 tokoh & tempat di novel ini juga lucu2. Lebih banyak diambil dari kata2 dalam bahasa Hindustan, seperti:

Bat-Mat-Karo = Tak-Boleh-Bicara

Alifbay = sebuah negeri khayal, dalam bahasa Hindustan berarti “abjad”

Bezaban = tanpa lidah

Khattam-Shud = berakhir dengan tuntas


Leave a Comment

(required)

(required)



Formatting your comment
Back to Top | Textarea: Larger | Smaller