Enggan
Enggan adalah enggan. Tak terikat pada norma manapun. Dan, saya enggan.
Orang boleh bersukacita dengan segenap keramaian.
Orang boleh menikmati suara-suara dan beragam polah meningkapi batok kepala.
Orang boleh apa saja, bahkan ketika mereka ingin membunuh saya pelan-pelan.
Tapi jangan tangkap pergelangan tangan saya untuk kemudian menariknya seakan saya tak punya perasaan, kehendak, apalagi hak pribadi.
Tapi jangan kurung saya atas segala macam nama yang bahkan muncul dari antah-berantah.
Enggan adalah hak pribadi. Dan, saya hanya enggan. Tak perlu alasan untuk dikemukakan toh?
Enggan adalah enggan. Dianya serupa virus berkeliaran di atmosfer yang melingkupi hidup saya dan hidup semua orang.
Percayalah dianya tak membunuh. Dia hanya bermaksud membuatmu mengerti, meski sungguh tergantung penuh padamu apakah kamu akan sungguh mengerti bagaimana dirimu secara fisik dan mental membutuhkan keseimbangan.
Dan, saya kali ini enggan. Maka, biarkan saja.
Keseimbangan
Tidak jarang orang2 mengernyit keheranan melihat kedekatan bahkan persahabatan saya dengan orang2 yang mungkin buat mereka termasuk dalam kategori “sulit”.
Tidak jarang orang2 pun berkomentar terhadap orang2 yang bisa mendekat ke sisi si saya yang lebih sering dinilai “sulit”.
Kok bisa sih??
Penasaran?? Lanjutkan..



