Catatan si Kuke



Tanganmu Harimaumu

Ingat pelajaran Bahasa Indonesia zaman sekolah dulu??

Pasti tidak asing dengan peribahasa “Mulutmu Harimaumu” yang berarti “segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak difikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri“.

Namun seiring dengan pergeseran trend komunikasi yang lebih banyak mengandalkan jemari tangan ketimbang mulut, kemungkinan peribahasa itu akan bergeser menjadi “Tanganmu Harimaumu” yang bisa berartisegala tulisan yang terlanjur kita ketikkan apabila tidak difikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri“.

Bukannya tanpa dasar si saya mengangkat topik ini :)

Pagi ini si saya menjadi korban pelecehan verbal dari seorang mahasiswa *yups.. yups.. secara gender.. yah beda-gender dengan si saya..* yang mungkin berpikir bahwa apa yang diketikkan sebagai komentar di status FB saya adalah “lucu”.

Hemhh.. apanya yang lucu jika si saya yang membacanya malah menjadi jengah??

Apanya yang lucu jika kemudian beberapa rekan juga mahasiswa/i yang sedang online berkomentar, “Gila! Berani bener tuh anak bikin komentar kayak gitu di status lu?? Dia tuh hormatin elu sebagai dosennya ga sih??”

Meski terkendali.. ya.. jelas.. saya marah :|

Saya bisa menepikan isu “tidak menghormati relasi profesional sebagai dosen – mahasiswa” *thats okay..*

Tapi saya tidak bisa menepikan isu (cenderung) merendahkan perempuan :(   *maaf2 ajah kalo udah urusan begini.. meski si saya masih bukan seorang feminis..*

Memangnya dia menuliskan apa??

Saya punya hak untuk tidak menyalin ulang secara gamblang apa yang dia tuliskan.

Mungkin dia pikir itu bercanda, karena yaaa jika dipikirkan secara positif.. apa yang dituliskan itu adalah aktivitas harian bayi hingga berumur 2 tahun.. *kata2 yang sering mereka ucapkan untuk meminta hak mereka pada ibunya..*

Lalu itu lucu??

Sama sekali TIDAK LUCU jika dituliskan di ruang publik *di mana heiii.. halooo.. dunia saya tidak sesempit dunia kamu.. di mana masing2 teman itu bukannya bisa saya kendalikan cara bereaksinya terhadap satu kalimat..*

Sama sekali TIDAK LUCU buat saya, bahkan ketika saya berada di antara rekan2 seumuran yang tahu-sama-tahu sedang membicarakan dan bercanda apa.. *kayak gitu itu lucu ya buat bahan becandaan di ruang publik?? *

Saya punya hak bereaksi, “Ih, ga sopan!!”

Terus??

Reaksi saya ekstrim.

Saya ganti mengetikkan beberapa kata yang alhamdulillah masih terjaga *ga yang marah2 ga jelas sampai bawa2 penghuni kebun binatang..*

Lalu.. saya remove dia dari friend-list dengan tidak hormat.

Dia minta maaf tidak??

Iya. Inbox saya sampai penuh.. *dibalas sekali ajah cukup.. toh saya sedang berapi.. nanti malah kebakaran semuanya..*

Belum lagi dia berusaha keras mencari nomor kontak saya *dan entahhh kenapa bisa bocor yah?? heuh.. * untuk kemudian bolak-balik telpon *dengan nada getar yang terasa sangat annoying buat saya..* dan hanya saya acuhkan.. *karena saya masih berapi.. percuma deh..*

Ayu.. *sigh*

Loh, kenapa memang??

Toh selama ini saya bukan tipe orang yang menunjukkan bahwa saya tidak bisa bercanda kan?? Boleh bercanda. Tapi belajarlah untuk tahu batasan, bukan hanya berpikir seisi dunia akan suka dengan cara bercanda Anda dan menerimanya dengan sama senangnya.

Satu hal lagi..

Selama ini si saya sudah lumayan puas jadi korban “salah nada” untuk segala hal yang diinformasikan melalui media tulisan. Itulah kenapa sebisanya saya menjaga agar atmosfer negatif *sebagai dampak salah-nada yang kerap terjadi di ruang publik macam FB, twitter, plurk* tidak meluas ke mana2 *jadi ingat obrolan kecil dengan ceu Momon beberapa jam sebelumnya..*

Ehhh kok ya ndilalah ada kejadian menyebalkan *yang sebelumnya cukup tersaring baik dengan fungsi delete( ).. tapi sepertinya delete ajah ga cukup buat kontrol kalo2 si saya lagi susah ketemu koneksi internet.. *

Maka berhati-hatilah bagi siapapun yang menggunakan media publik untuk bersosialisasi atau sekedar memenuhi hasrat eksistensi-diri!

Tanganmu Harimaumu!


Comments

  1. betahita says:

    Wah…saya ikut minta maaf deh..
    Semoga jalinan profesional kita (SK) tetap terjaga.

    peace bu!
    Skut man!

    kuke: Nah loh.. kenapa dirimu yang minta maaf? ;) santai Bro.. urusan pribadi ga akan meluluhlantakkan profesionalisme :D skuttt..

    | Reply Posted 1 month, 2 weeks ago
  2. Japestinho says:

    Wah perlu saya laporkan ke mister ***edited by author*** ini agar sang pelaku segera mendapat pendidikan moral yang lebih baik hehe.. :D
    *sedang berpikir keras

    Skutt buk!!

    Kuke: heh?? hihihi.. ga perlu lah.. :D skuttt sajah..

    | Reply Posted 1 month, 2 weeks ago


Leave a Comment

(required)

(required)



Formatting your comment
Back to Top | Textarea: Larger | Smaller